head

Senin, 21 Februari 2011

Gejolak Politik Lybia Hambat laju Rupiah Menuju 8.800


TEMPO Interaktif, Jakarta - Gejolak politik di Lybia yang makin memanas menjadi ganjalan bagi penguatan rupiah untuk menggapai level 8.800 per dolar. Meningkatnya kekhawatiran terhadap situasi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang marak menuntut pergantian pemerintahan meredam minat para pelaku pasar berburu aset – aset yang berimbal hasil tinggi.

Aksi risk appetite (keberanian mengambil resiko) investor pada mata uang regional yang berimbal hasil dan beresiko tinggi meredup dan kembali mengalihkan dolar AS sebagai safe haven (tempat yang lebih aman) untuk memarkirikan dananya disaat terjadi ketidakpastian.

Terdepresiasinya mata uang Asia memicu pelemahan matau uang lokal hari ini. Alhasil, nilai tukar rupiah pagi ini pukul 9:30 WIB ditransaksikan melemah 16 poin ke level 8.873 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada transaksi Senin (21/2) nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis 3 poin ke level 8.857 per dolar AS. Bahkan rupiah sempat menguat hingga ke level 8.847 per dolar AS.

Praktisi pasar uang salah satu bank di Jakarta, Lindawati Susanto mengemukakan, ekspektasi para pelaku pasar yang sangat positif terhadap rupiah membuat mata uang lokal terus menguat tajam dalam beberapa pekan terakhir. “Titik baliknya sejak Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate 25 basis poin pada 4 Februari lalu,” tuturnya.

Dengan naiknya suku bunga tentunya nilai tukar rupiah juga akan menguat, karena imbal hasil yang ditawarkan meningkat sehingga makin diminati oleh para investor.

“Secara fundamental makroekonomi rupiah masih sangat bagus dimana ekspektasi ekonomi masih akan tumbuh sekitar 6 persen,” kata Linda.

Untuk hari ini Linda memprediksikan rupiah akan ditransaksikan dalam kisaran antara 8.840 hingga 8.890 per dolar AS. Mata uang rupiah yang sudah terapresiasi cukup signifikan dan meningkatnya gejolak politik di Lybia membuat penguatan rupiah akan mengalami ganjalan.
tempointeraktif.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar