head

Jumat, 04 Maret 2011

'Rumah-tangga' ala Ayam, Bebek dan Merpati


Kehidupan unggas seperti  Ayam, Bebek atau Merpati sebagai binatang pastilah berbeda jauh dengan kita yang ditakdirkan sebagai manusia. Namun demikian pola kehidupan unggas yang monoton bisa kita pakai sebagai gambaran pola kehidupan manusia yang penuh kemungkinan. Sebutlah misalnya pola 'rumah-tangga'  ala tiga jenis unggas: ayam, bebek dan merpati.


Jika kita cermati ketiganya niscaya akan muncul gambaran tiga pola rumahtangga manusia yang beragam untuk kemudian bisa kita pilih mana yang paling baik dan kita singkirkan yang jelek.

Rumah Tangga ala Ayam
Ayam jantan kawin dengan lebih dari satu ayam betina lantas yang betina  kemudianbertelur. Setelah telur dirasa cukup banyak maka ayam yang betina mengeraminya hingga menetas serta memelihara anaknya sampai bisa mandiri. Sendirian hal itu dia lakukan oleh yang betina sementara ayam jantan tidak terlibat sedikit pun dalam masalah telur dan anak ayam. Ayam Pejantan sekadar tukang kawin saja, tidak lebih dari itu. Ayam jantan tidak mau tahu anak yang dia buahi.

Agaknya beginilah gambaran pola rumah tangga yang disharmonis, hanya salah satu pihak saja yang mengurusi rumah tangga dan anaknya, sementara pihak lainnya tidak mau tahu. Bukankah banyak kita jumpai manusia yang demikian?. Ia hanya menanam benih saja, kemudian lari dari tanggungjawab, sehingga pihak wanita yang merawat dan membesarkan anaknya sendirian. Itulah gambaran rumahtangga ala Ayam.

Rumah Tangga ala Bebek
Lebih rusak lagi pada perkawinan ala Bebek. Cukup seekor bebek jantan untuk mengawini 20 ekor bebek betina sekaligus. Begitu bebek betina dikawini maka ia akan bertelur dan bertelur lagi. Anehnya meskipun terhadap telurnya sendiri yang sudah banyak itu bebek-bebek betina tidak pernah mau mengeraminya apalagi mengasuh anak-bebeknya. Pekerjaan si jantan sekadar mengawini dan si betina dikawini lantas bertelur saja. Tidak ada yang mau menjaga kelestarian jenisnya sendiri kecuali dibantu oleh induk ayam ataupun mesin penetas.

Inilah gambaran pola rumah tangga broken home, mau kawin hanya enaknya saja, tetapi urusan anak menjadi tanggung jawab pihak lain. Bukankah banyak kita jumpai saat ini manusia yang demikian?.

Mereka hanya melahirkan anak saja tanpa mau bertanggungjawab membesarkannya, , sehingga pihak  yang merawat adalah neneknya, saudaranya atau ditipkan di Panti. Lebih celaka lagi banyak yang sampai tega menjual darah dagingnya sendiri. Masya Allah

Rumah Tangga ala Merpati
 Merpati agaknya lebih harmonis. Seekor merpati jantan akan setia kepada seekor merpati betina, begitu pula sebaliknya. Kesetiaannya itu patut dipuji hingga ada manusia yang sering mengeksploitasinya dengan tomprang, adu kecepatan terbang para jantan dalam mendekati betina-betinanya. Eloknya lagi pada saat mengerami telur, ternyata jantan-betina itu bergantian. Demikian pula saat menyuapi anaknya, kadang si 'bapak' dan kadang si 'ibu'. Praktis sejak mereka kawin hingga ke pengasuhan anak-anaknya si jantan dan betina bekerja sama selalu.

Inilah agaknya pola rumah tangga ideal yang setara antara jantan dengan betinanya. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing.

Sahabatku,
Allah swt berfirman, “"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mngenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujarat [49]:13).
Tiada Tuhan selain Allah Yang Menciptakan segalanya. Dia-lah yang menciptakan kita sebagai manusia tanpa bisa memilih ingin lahir di mana, ingin rupa seperti apa, ingin menjadi bangsa yang mana, maupun ingin menjadi laki-laki atau perempuan. Kendati demikian, kita harus yakin bahwa Allah telah menciptakan kita dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran surat At-Tiin [95] ayat 4 :”Laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwiin (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalan bentuk yang sebaik-baiknya)”.

Setiap orang tentu mendambakan bisa hidup di sebuah Negara yang aman, tentram, dan penuh berkah. Sebagaimana setiap orang juga pasti merindukan hidup bahagia dalam sebuah jalinan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hanya saja perlu digaris bawahi bahwa sebuah Negara yang penuh berkah tampaknya tidak akan terwujud apabila tidak ditopang oleh pilar-pilar rumah tangga yang berkah pula.

Unit-unit keluarga yang baik merupakan pilar pembentuk masyarakat yang ideal yang melahirkan sebuah bangsa yang kuat dan bermartabat. Di dalam keluarga seperti ini akanditemukan kehangatan dan kasih saying yang wajar, tiada rasa tertekan, tiada ancaman, dan jauh dari silang sengketa serta perselisihan. Dalam keluarga seperti ini akan tumbuh ketenangan batin bagi seluruh anggota keluarganya, sehingga tercipta ketenangan yang diliputi mawaddah, warahmah. Atau cinta dan kasih sayang.

Dengan demikian, jika kita menginginkan bangsa ini bangkit dan bermartabat, maka unit-unit rumah tangga ang terdapat di dalamnya dulu yang harus bermartabat. Sayangnya, kadang-kadang kita tidak sangat serius menentukan visi keluarga. Mau diarahkan kemana keluarga kita?

 Memang tidak seperti diibaratkan rumah tangga ala Bebek atau Ayan di atas, akan tetapi terkadang kita tidak serius meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk keluarga kita sendiri. Tidak jarang semuanya dilakukan serba sisa. Bertemu anak menggunakan sisa waktu, bertemu istri pun sisa waktu. Bercengkerama dengan keluarga saja sisa tenaga, sisa pikiran. Semua serba sisa. Lantas, apa yang dapat diperoleh dari sesuatu yang serba sisa?

Padahal, dalam Al Quran, Allah telah menegaskan bahwa “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Artinya, menjaga diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama. Kalau kita ingin berbuat sesuatu, sesudah kita memperbaiki diri, maka selamatkan keluarga. Bukankah tidak sedikit pemimpin yang jatuh gara-gara keluarganya? Bisa dari istrinya, bisa dari anak, atau sebaliknya.

Sahabatku,
Seperti halnya dalam rumah tangga ala “Ayam”, tidak sedikit suami yang menganggap pendidikan adalah tanggung jawab istri. Sedangkan kewajibannya sebagai suami hanyalah mencari nafkah. Padahal, mencari nafkah itu hanya salah satu diantara kewajiban suami. Sebab seorang ayah berperan sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin itu bukan hanya mengendalikan, tetapi juga harus bisa menentukan arah. Pemimpin harus mampu mengontrol dan membuat system, sehingga tujuan yang telah ditetapkan bersama dapat tercapai dan memberi hasil maksimal.

Seharusnya, seorang suami lebih serius lagi untuk menjadi suri tauladan bagi keluarganya. Jangan sampai menimbulkan kekecewaan pada anak terhadap figure ayahnya. Di sinilah perlu suasana hangat penuh kemesraan dalam keluarga, sehingga dalam hubungan sehari-hari pun dapat terbina jalinan keakraban yang luar biasa antata satu dengan yang lainnya. Sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam memberi perintah kepada anak misalnya, Insya Allah akan membuat anak bersikap hormat dan sopan kepada orang tua. Hal ini dengan sendirinya akan memberi pengaruh besar pada hubungan anata anggota keluarga.

Adalah sebuah prestasi bagi suami sebagai pemimpin keluarga jika dia berhasil membangun keluarga yang bermoral, bermartabat, dan berakhlak mulia. Pemimpin yang baik juga bukanlah pemimpin yang otoriter. Akan tetapi pemimpin yang selalu siap mendengar kritik dan saran dari anak ataupun istri seraya melakukan evaluasi diri. Kegigihan orang tua dengan serius membuat program suri tauladan bagi anak-anaknya adalah sebuah pendidikan yang tidak ternilai. Ibu juga selayaknya meluangkan waktu untuk menuntut ilmu agar dapat menyuplai dan mem-backup suami dalam mengubah akhlak menjadi lebih baik.

Sahabatku,
Di saat kita memutuskan menikah, maka sebaiknya kita sudah memiliki visi keluarga yang jelas. Pernikahan bukanlah masalah ijab Kabul saja sehingga pasangan itu resmi menjadi suami istri. Lebih dari itu, pasangan mempelai juga harus memiliki kesunguhan untuk membangun keluarga yang dapat memuliakan orangtua, membina keluarga yang produktif dan bermanfaat bagi lingkungannya.

Melalui pernikahan diharapkan lahir anak-anak yang nantinya lebih baik, sehingga bisa menjadi cahaya bagi umat, menjadi pilar bagi bangsa dan melahirkan generasi yang akan membawa manfaat besar. Dalam menjalin suatu hubungan suami istri dibutuhkan sikap saling menghormati, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing sebagai karunia Allah, agar selanjutnya dapat diperbaiki bersama-sama.

Untuk mencapai keluarga atau rumah tangga yang diberkahi Allah, tentu diperlukan persiapan ilmu dan pengetahuan yang cukup. Hal ini harus dimiliki oleh setiap individu yang aka berumah tangga sehingga masing-masing tahu apa hak dan kewajiban serta posisinya jika sudah berkeluarga. Sebab bila tidak bisa memposisikan diri, maka rumah tangga adalah awal dari masalah.

Sahabatku,
Ketika banyak pernikahan akhir-akhir ini, ketika tidak sedikit godaan yang bisa merusak rumah tangga kita saat ini, maka tiga pola 'rumah tangga unggas'  tersebut di atas layak untuk kita renungkan.

Kecenderungan seperti bebek yang serba hedonistis ataupun seperti ayam betina yang sendirian mengurusi rumah tangga, tentu bisa kita singkirkan. Sungguh sebuah rumah tangga merupakan ‘soko guru’ kehidupan masyarakat serta bangsa. Baiknya bangsa dan masyarakat hanya akan terwujud jika rumah tangga kita juga baik. Dan untuk membangun serta menjaga keserasiannya dibutuhkan dua pihak sekaligus. Keduanya harus secara aktif mengambil peran: berikhtiar, berbagi dan bertawakal.


Pantaslah merpati bisa terbang  jauh tinggi melebihi ayam serta bebek.
Wallahu a'lam bissawab.



Bârakallâhu lî wa lakum,
Matur syukran n Terima kasih.
Semoga Bermanfaat ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar